Dosen Prodi SPI Menjadi Narasumber Dalam Seminar Internasional di UIN Antasari Banjarmasin

Dosen Prodi SPI Menjadi Narasumber Dalam Seminar Internasional di UIN Antasari Banjarmasin

Banjarmasin – Pada Selasa tanggal 8 Oktober 2019, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin menyelenggarakan Seminar Internasional yang bertajuk “The Role of Islam in Indonesian Revolution”, bertempat di Aula Zafry Zamzam, Lt. 3, Gedung Rektorat UIN Antasari, Banjarmasin. Seminar ini menghadirkan Kevin William Fogg, Ph.D (Faculty of History, University of Oxford) dan Muhammad Iqbal, M.Hum (Sejarawan sekaligus Dosen Prodi SPI IAIN Palangka Raya).

Dalam seminar ini, muncul pertanyaan yang menantang, “Mengapa pada era Revolusi Indonesia, nyaris sunyi dari tulisan tentang peran umat Islam?” Padahal kata Muhammad Iqbal (Dosen SPI IAIN Palangkaraya) sangat besar peranan umat Islam di era itu. Apakah waktu itu umat Islam sibuk menata dan menyusun gerakan revolusi, hingga tak punya kesempatan untuk menulis dan mengabadikan perjuangannya ? Ataukah umat Islam memang tidak suka menonjolkan diri, takut jatuh ke dalam sikap riya, sum’ah dan ujub yang dalam ajaran Islam termasuk syirik kecil atau syirik khafi (tersembunyi) sehingga mereka menerima saja, walau tanpa penghargaan yang sewajarnya. Bisa jadi kata Kevin William Fogg (Oxford Univesity, Inggris) karena sibuk melawan kalangan nasionalis dan kalangan kiri yang sering menyerang kalangan Islam. Dalam era Soekarno, Orde Lama, kabinet jatuh bangun, kala kaum nasionalis dan kaum kiri berkuasa, maka bisa dipastikan kaum islamis menderita, sebaliknya kala kaum Islamis berkuasa, maka kaum nasionalis dan kaum kiri menderita, begitu seterusnya hampir berjalan tanpa henti. Atau karena Soeharto era Orde Baru (Orba), sengaja menyembunyikan dan meminggirkan peran umat Islam sambil mengangkat peran tentara dan membesar-besarkannya. Namun tak bisa dinafikan, kata M. Iqbal sebenarnya sudah ada tulisan-tulisan tentang peran Islam di era Revolusi Indonesia itu, cuma sayang masih sporadis dan terbengkalai belum ada upaya untuk menghimpunnya.

Nah, kata M. Iqbal lagi, Kevinlah, yang memulai untuk yang pertamakali meneliti secara komprehensif peran Islam di era Revolusi Indonesia, dengan judul buku yang sebentar lagi akan terbit “The Role of Islam in Indonesian Revolution”. Nampaknya Kevin menyatakan bahwa sebuah Revolusi terjadi karena adanya sinergitas antara kelas elit muslim, kelas menengah muslim dan kelas grassroot muslim. Namun anehnya dalam paparannya hanya menegaskan adanya sinergitas kelas elit muslim dengan kelas grassroot muslim. Pertanyaannya apakah ia sengaja meninggalkan kelas menengah muslim? Jawabannya, mungkin karena ia termasuk orang yang menyangkal adanya kelas menengah, termasuk kelas menengah muslim di Indonesia. Atau paling tidak ia melihat kelas menengah muslim tidak mempunyai peran signifikan di era Revolusi Indonesia. Hal ini terbukti dalam penelitiannya sangat fokus pada kelas grassroot muslim dan kelas elit muslim.

Perjuangan kelas grassroot muslim ditandai perjuangan Islam di berbagai daerah seperti di Aceh, Medan, Padang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dengan menggunakan senjata sederhana ditambah dengan kekuatan supratural (tenaga dalam, azimat, mantera, bagampiran, barasuk, wifik, mandi air do’a, hizb, ratib, babasal, rajah dan sejenisnya). Perjuangan kelas elit muslim ditandai dengan perjuangan diplomatis memperjuangkan ideologi Islam, Islam sebagai dasar negara dan puncaknya sempat berhasil melahirkan Piagam Jakarta, meskipun tidak sempat berlaku sebagai dasar negara, tapi ia menjadi dokumen penting bagi proses sejarah disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara. Ia menelusuri narasi keinginan Islam sebagai dasar negara ini, pada SI, NU, Muhammadiyah, Masyumi, Jami’atul Khairiyah, Al-Irsyad, Al-Washliyah (Medan), PERTI (Padang), Mathla’ul Anwar (Banten), PERSIS (Bandung), Nahdlatul Wathan (Lombok), Musyawaratut Thalibin (Kalimantan Selatan), Darul Khairat wal Irsyad (Sulawesi) dan lain-lain. Lebih dari itu Kevin juga meneliti peran Ahmadiyah yang pemikiran salah satu tokohnya sangat mempengaruhi pemikiran Cokroaminoto, bahkan karya Cokro “Sosialisme Islam” kata Kevin merupakan plagiat dari tokoh Ahmadiyah tersebut. Tak lupa juga Kevin meneliti beberapa sosok penting yang sangat berperan dalam Revolusi Indonesia seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Saifuddin Zuhri, KH. Idham Chalid, Sukiman, KH. Ahmad Dahlan, KH. Kahar Muzakkir, Muhammad Natsir, H. Daud Baureh dan sebagainya.

Kevin menguraikan lagi, perjuangan kelas grassroot muslim yang disebutnya laskar-laskar Islam di daerah terkadang tidak hanya didorong oleh ideologi Islam semata-mata, tapi juga oleh aliran mazhab, partai, ormas dan semangat lokal atau rasa kedaerahan dan waktu. Sementara, perjuangan kelas elit muslim di Jakarta dan daerah lainnya menurut M. Iqbal terkadang juga terjadi friksi dan perpecahan satu sama lain seperti Masyumi yang sempat menjadi wadah persatuan umat Islam terjadi perpecahan di dalamnya, SI (Syarikat Islam) keluar dari Masyumi, kemudian menyusul NU dan terus disusul oleh ormas-ormas lainnya, hingga kemudian Masyumi menjadi salah satu partai terlarang dan lantas dibubarkan.

M. Iqbal melengkapi presentasi Kevin, dengan memaparkan peran umat Islam di Kalimantan Selatan. Menurutnya, pusat gerakan Islam di era Revolusi Indonesia berada di daerah Hulu Sungai, karena Banjarmasin waktu itu sudah dikuasai Belanda dan Belanda ini bersikap sangat kejam di sini tidak lagi menggunakan politik etisnya. Gerakan Islam di Kalimantan Selatan kebanyakan dipimpin oleh Tuan Guru atau setidaknya tokoh yang sangat mengetahui Islam. Iqbal menceritakan seorang tokoh Ibnu Hajar yang menurutnya sebagai tokoh pejuang yang kemudian memberontak karena kecewa dengan rasionalisasi tentara sekaligus kelemahan di dalam gerakan Islam tapi Ibnu Hajar dan laskarnya tidaklah termasuk sebagai bagian dari pemberontakan Darul Islam. Makalah M. Iqbal bisa diunduh di sini.

Sumber: https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=1072977819760508&id=100011449009347&_rdc=1&_rdr (dengan sedikit penyesuaian)

Berita