PRAKTIKUM MAHASISWA PRODI. SEJARAH PERADABAN ISLAM SEMESTER GANJIL 2019

Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) FUAD IAIN Palangka Raya melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan I pada hari rabu dan kamis, 13-14 November 2019 yang merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa semester lima (5) angkatan 2017 sebagai pengembangan mata kuliah terkait perkenalan situs-situs atau sumber-sumber peninggalan sejarah yang masi ada sampai sekarang. Terdapat empat situs lokasi yang dikunjungi oleh mahasiswa di kota Palangka Raya yaitu :  1. Huma Betang, 2. Rumah Museum Tjilik Riwut,  3. Museum Balanga, 4. Bukit Batu Pertapaan Tjilik Riwut.

Pelepasan Praktikum KKL I Semester lima (5) tahun 2019 oleh Ibu Dekan Dr. Desi Erawati, M.Ag dengan Wakil Dekan bidang II Dr. Emawati, M.Ag dan wakil dekan bidang III Dr. Taufik Warman Makhfus, Lc. M.A

Huma Betang merupakan rumah ciri khas masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah dalam bahasa Dayak adalah “rumah besar” yang dihuni banyak orang dengan beragam agama dan kepercayaan tetapi tetap rukun nan damai. Dalam “huma betang” tidak pernah terjadi perselisihan yang berarti karena tingkat kekeluargaan atau kekerabatan yang sangat tinggi. Sehingga Huma Betang adalah sebuah simbol dan filosofis kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) seperti yang terlihat di Kota Palangka Raya, Ibukota Provinsi Kalteng, Rumah Betang (rumah panjang, rumah besar) merupakan rumah adat Dayak. Sesuai dengan namanya rumah ini berukuran besar yang mampu menampung puluhan orang atau keluarga yang mempunyai ikatan keluarga.

Kunjungan Museum Tjilik Riwut yang disambut hangat oleh anak ke 4 dari bpk Tjilik Riwut ialah ibu Ida Riwut yang satu-satunya dalam keluarga beragama Islam dan mendiami rumah peninggalan ayahnya di Kota Palangka Raya. Menurut informasi bpk Tjilik Riwut aktif di bidang militer, ia juga menjadi sosok berjasa yang di balik bersatunya Kalimantan dengan Indonesia. Tjilik Riwut adalah orang asli Kalimantan yang berasal dari suku Dayak Ngaju. Dengan bangga ia menyebut dirinya sebagai orang hutang karena terbiasa hidup di alam liar Kalimantan. Bahkan semasa hidupnya, ia sudah 3 kali mengelilingi pulau Borneo tersebut hanya dengan jalan kaki serta menggunakan sampan.  Tjilik Riwut kemudian terjun ke dunia militer dan menjadi Komandan Pasukan MN 101 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan. Ia jua mencatatkan prestasi di bidang militer karena kesuksesannya sebagai komando Penerjung Payung Pertama AURI pada 17 Oktober 1947. Sejak saat itu 17 Oktober diperingati sebagai hari Pasukan Khas TNI-AU.

Museum Balanga merupakan museum yang terletak di ibukota Kalimantan Tengah yaitu Kota Palangka Raya.  Dulunya museum ini merupakan Gedung Monumen Dewan Nasional (GMDN) yang dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada tanggal 6 April 1973 dengan nama “Balanga”. Museum Kalimantan Tengah “Balanga” di bawah pembinaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah. Didalam meseum terdapat alat atau benda-benda peninggalan suasana kehidupan tradisional Suku Dayak. Koleksi disusun berdasarkan daur hidup, mulai dari peralatan upacara fase kelahiran, perkawinan dan kematian. Di museum tersebut juga ada senjata tradisional seperti Sumpit, Duhung, dan Mandau. Uniknya disana juga dipajang miniatur rumah panjang yang disebut rumah Betang.

Bukit Batu tersebut merupakan tempat Balampah atau Bartapa salah satu pahlawan nasional Tjilik Riwut. di tempat ini ada sebuah hamparan tumpukan batu-batu besar yang membentuk bukit. Luas arealnya kurang lebih seluas lapangan sepak bola. Batunya dominan berwarna hitam dan abu lumut, di beberapa bagian ada warna putih dengan bentuk-bentuk yang sangat unik dan menarik.

Uncategorized